Callahan72josefsen's website

Our website

07
Fe
Penjelasan Aqiqah Merujuk Agama Islam
07.02.2017 05:52

Pikir bahasa ‘Aqiqah artinya: mengotes. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya lembut binatang dengan penyembelihan ini. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah merupakan nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong Ada pun yang mengeluarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Rambut yang tersembunyi pada oknum si momongan ketika ia keluar dari rahim pokok, rambut ini disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah merupakan penyembelihan domba/kambing untuk budak yang dilahirkan pada hari ke tujuh, 14, atau 21. Jumlahnya 2 sudut untuk bayi laki-laki serta 1 ekor untuk bocah perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Daripada Samurah bin Jundab dia berkata: Nabi bersabda: “Semua anak momongan tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi identitas dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Daripada Aisyah dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang sama dan momongan perempuan tunggal kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya saat hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Mulai Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh bertitah: “Aqiqah dijalankan karena kelahiran bayi, oleh sebab itu sembelihlah satwa dan hilangkanlah semua gangguan darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Mulai ‘Amr bin Syu’aib atas ayahnya, atas kakeknya, Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi jadi hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang serupa dan untuk perempuan wahid kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW relasi ber ‘aqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ke-7 mulai kelahirannya, beliau memberi seri dan mengharuskan supaya dihilangkan kotoran daripada kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, di dalam AI-Mustadrak bagian 4, hal. 264]

Tanggapan: Hasan dan Husain adalah cucu Nabi SAW.

Mulai Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Patut, dia mengatakan: Rasulullah menitahkan: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan argentum kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, & al-Baihaqi]

Daripada Abu Buraidah r. a.: Aqiqah itu disembelih di hari ketujuh, atau keempat belas, / kedua puluh satunya. (HR Baihaqi & Thabrani).

Pedoman Aqiqah Bujang adalah sunnah (muakkad) setara pendapat Kepala Malik, penduduk Madinah, Imam Syafi'i & sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan mayoritas ulama ahli fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sambil kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai zat yang sunnah muakkadah merupakan hadist Rasul SAW. http://dapoeraqiqah.com/catering-aqiqah-bandung/ Yang berbunyi, “Anak tergadai secara aqiqahnya. Disembelihkan untuknya saat hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan bersihkan darinya telau (Maksudnya bercukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Titik lidah: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah rodi, namun meski bersifat tentu, karena tersedia sabdanya yang memalingkan mulai kewajiban ialah: “Barangsiapa di antara kalian tersedia yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, jadi silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Duli Dawud & An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan saksi dusta yang memutar perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Imam Tuan berkata: Aqiqah itu diantaranya layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), tidak boleh pada aqiqah ini hewan yang picak, mersik, patah urat, dan pedih. Imam Asy-Syafi’iy berkata: & harus dihindari dalam fauna aqiqah ini cacat-cacat yang tidak diperbolehkan di qurban.

Buraidah berkata: Lewat kami di masa jahiliyah apabila melenceng seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan mengotori kepalanya dengan darah wedus itu. Oleh karena itu setelah Allah mendatangkan Agama islam, kami menjagal kambing, membabat (menggundul) penyelenggara si momongan dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Duli Dawud bab 3, sesuatu. 107]

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang pada masa jahiliyah apabila mereka ber’aqiqah untuk seorang budak, mereka menggores kapas beserta darah ‘aqiqah, lalu ketika mencukur rambut si balita mereka mencolekkan pada kepalanya”. Maka Rasul SAW menitahkan, “Gantilah darah itu beserta minyak wangi”.[HR. Putri Hibban beserta tartib Rumpun Balban surah 12, hal. 124]

Menunaikan aqiqah dari segi kesepakatan para ulama adalah hari ketujuh dari kemunculan. Hal tersebut berdasarkan hadits Samirah dalam mana Rasul SAW bersabda, “Seorang bani terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Dan jika tidak pun, maka di dalam hari ke-21 atau kapan saja ia mampu. Kepala Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke tujuh (tujuh) buat dasar bujukan, maka sekiranya menyembelih saat hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah itu telah pas. Karena sendi ajaran Agama islam adalah memudahkan bukan merunyamkan sebagaimana nasihat Allah SWT: “Allah menodong kemudahan bagimu dan gak menghendaki pertengkaran bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Menunaikan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kemunculan, ini berdasarkan sabda Rasul SAW, yang artinya: “Setiap anak ini tergadai beserta hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi seri. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, & dishahihkan per At Tirmidzi)

Dan jikalau tidak siap melaksanakannya dalam hari ketujuh, maka mampu dilaksanakan di dalam hari ke empat belas, dan jika tidak bisa, maka saat hari ke dua persepuluhan satu, berikut berdasarkan hadits Abdullah Putra Buraidah daripada ayahnya atas Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: “Hewan aqiqah ini disembelih di hari ketujuh, ke empat belas, dan ke dua puluh mono. ” (Hadits hasan hal Al Baihaqiy)

Namun setelah tiga ahad masih bukan mampu maka kapan sekadar pelaksanaannya dalam kala sungguh mampu, sebab pelaksanaan di dalam hari-hari di tujuh, ke empat belas dan di dua puluh satu merupakan sifatnya sunnah dan paling utama tidak wajib. Dan boleh pun melaksanakannya sebelum hari ke tujuh.

Balita yang menyisih dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan juga untuk disembelihkan aqiqahnya, bahkan meskipun budak yang keguguran dengan syarat sudah berusia empat kamar di dalam kandungan ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada rama si bayi. Namun apabila seseorang yang belum di sembelihkan satwa aqiqah sama orang tuanya hingga ia besar, oleh sebab itu dia mampu menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan jika tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri jadi hal ini tidak apa-apa menurut aku, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan saat hari ketujuh dari kemunculan. Jika tidak bisa, dipastikan pada hari keempat belas. Dan jika bukan bisa pula, maka saat hari kedua puluh wahid. Selain tersebut, pelaksanaan aqiqah menjadi muatan ayah.

Tapi demikian, bila ternyata saat kecil ia belum diaqiqahi, ia sanggup melakukan aqiqah sendiri pada saat gede. Satu tatkala al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah begitu besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Kepala Ahmad menyongsong, “Menurutku, apabila ia belum diaqiqahi pada kecil, dipastikan lebih cantik melakukannya sendiri saat mantap. Aku gak menganggapnya makruh”.

Para saudara Imam Syafi’i juga mereken demikian. Menurut mereka, anak-anak yang sudah dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang2 tuanya, disarankan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Jumlah Hewan

Jumlah hewan aqiqah minimal adalah satu sudut baik untuk laki-laki ataupun pun untuk perempuan, sesuai perkataan Putra Abbas ra: “Sesungguh-nya Nabi SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain tunggal domba tunggal domba. ” (Hadits shahih riwayat Serbuk Dawud serta Ibnu Al Jarud)

Kita harus mengerti bahwa Rancak dan Husain adalah bani kembar. Jadi pada tunggal kelahiran itu disembelih dua ekor kibas.

Namun yang lebih yang utama adalah 2 ekor untuk anak laki-laki dan 1 termuda untuk bujang perempuan bertolak pada hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW mengharuskan agar dsembelihkan aqiqah atas anak laki-laki dua ekor sedia dan dari anak cewek satu kontrol. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad serta Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang memiliki arti: “Nabi SAW memerintahkan itu agar disembelihkan aqiqah dari anak laki-laki 2 ekor domba yang selevel dan dari anak cewek satu sudut. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan secara ‘aqiqah

Yang berhubungan secara sang anak

1. Disunnatkan untuk memberi nama dan mencukur sabut (menggundul) di dalam hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir di hari Mono-, ‘aqiqahnya lewat pada hari Sabtu.

dua. Bagi anak laki-laki disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor wedus sedang untuk anak perempuan 1 ekor.

3. ‘Aqiqah ini terutama dibebankan menurut orang tua si anak, namun demikian boleh pula dilakukan per keluarga lainnya (kakek dan sebagainya).

4. Aqiqah berikut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Baik Mentah / Dimasak

Dianjurkan agar dagingnya diberikan pada kondisi sudah biasa dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor wedus untuk anak laki-laki dan satu ekor wedus untuk bujang perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Uci-uci aqiqah diberikan kepada tetangga dan melarat miskin pula bisa dikasih kepada orang2 non-muslim. Lagi pula jika hal itu dimaksudkan untuk mempesona simpatinya serta dalam kerangka dakwah. Dalilnya adalah firman Allah, “Mereka memberi mencopet orang seman, anak yatim, dan tahanan, dengan prinsip senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, terpidana pada tatkala itu merupakan orang-orang membelot. Namun demikian, keluarga juga boleh menandaskan sebagiannya.

Yang berhubungan secara binatang sembelihan

1. Di masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah wedus, tanpa menghitung apakah megak atau putri, sebagaimana babad di pangkal ini:

Atas Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebenarnya ia relasi bertanya lawan Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka sabda beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor kibas dan untuk anak dara satu upaya kambing. Tidak menyusahkanmu bagus kambing tersebut jantan maupun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di Nailul Authar 5: 149]

Dan kita belum mendapatkan dalil yang lain yang menampakkan adanya satwa selain kambing yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Saat yang dituntunkan oleh Rasul SAW menurut dalil yang shahih ialah pada hari ke-7 per kelahiran anak tersebut. [Lihat kaidah riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian ketuat Aqiqah

Adapun dagingnya oleh karena itu dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sekitar dagingnya, dan mensedekahkan sebagian lagi. Syaikh Utsaimin berkata: Dan tidak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menjemput kerabat dan tetangga untuk menyantap target daging aqiqah yang sungguh matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga sedang kepada kaum muslimin, dan boleh mengundang sohib-sohib dan macam untuk menyantapnya, atau boleh juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Putra Bazz berkata: Dan kamu bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya atau sebagiannya serta memasaknya kemudian mengundang orang2 yang tuan lihat gesit diundang mulai kalangan suku, tetangga, teman-teman seiman dan sebagian sosok faqir untuk menyantapnya, serta hal sebagai dikatakan sambil Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Anak

Tidak diragukan lagi jika ada sangkut paut antara arti sebuah sebutan dengan yang diberi identitas. Hal tersebut ditunjukan secara adanya sekitar nash syari yang menyarankan hal ini.

Dari Bubuk Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam hendaknya Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Sang pencipta mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 dan Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan sunah, ia akan meraih bahwa makna-makna yang terkandung dalam identitas berkaitan dengannya sehingga bagai makna-makna tersebut diambil darinya dan serasa nama-nama tersebut diambil daripada makna-maknanya”. Meski anda ingin mengetahui buah nama-nama lawan yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits dalam bawah berikut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Hamba datang kepada Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku respons: “Hazin” Rasul berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama pemberian bapakku” Pelerai demam Al-Musayyib mengatakan: “Orang tersebut senantiasa bersuara keras lawan kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang cantik untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban pengampu. Di antara nama-nama yang elok yang ranggi diberikan adalah nama nabi penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana tutur beliau: Mulai Jabir Ra dari Rasul SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau memakai kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik dari segi ajaran Agama islam, silahkan kelompok:

Memberi Nama Bayi atau Anak Secara Islami


Membabat Rambut

Mencukur rambut merupakan anjuran Nabi yang luar biasa baik untuk dilaksanakan saat anak yang baru mengembol pada hari ketujuh.

Di dalam hadits Samirah disebutkan kalau Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak tersekat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi nama, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik menceritakan bahwa Fatimah menimbang berat rambut Rancak dan Husein lalu beliau menyedekahkan perak seberat sabut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau bukan. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut mesti dilakukan beserta rata; bukan boleh seharga mencukur sekitar kepala dan sebagian lainnya dibiarkan. Tentu saja semakin banyak rambut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- semakin besar pula sedekahnya.

Doa Menyembelih Satwa Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Artinya: Dengan identitas Allah, sungguh Allah terimalah (kurban) mulai Muhammad serta keluarga Muhammad serta atas ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa budak baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Berarti: Aku berlindung untuk bani ini dengan kalimat Allah Yang Sempurna dari segala gangguan syaitan dan gelaran binatang beserta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat jorok bagi apa-apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Dari segi Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam sebagaimana dilansir di satu buah situs punya beberapa hikmah diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW pada meneladani Nabiyyullah Ibrahim AMERIKA tatkala Yang mahakuasa SWT menutup putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Di dalam aqiqah berikut mengandung unsur perlindungan daripada syaitan yang dapat memegang anak yang terlahir ini, dan itu sesuai dengan makna hadits, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Jadi Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Yang mahakuasa lebih terjamin dari huru-hara syaithan yang sering meniadakan anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud sebab Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sama aqiqahnya”.

3. Aqiqah adalah tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak di hari perkiraan. Sebagaimana Kepala Ahmad menyiarkan: “Dia tergadai dari menyampaikan Syafaat bagi kedua sosok tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan kerangka taqarrub (pendekatan diri) menurut Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus serupa wujud mereguk syukur untuk karunia yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala secara lahirnya sang anak.

5. Aqiqah guna sarana membuka rasa semarak dalam menjalankan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukminat yang mau memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah memperkuat ukhuwah (persaudaraan) diantara suku.

Dan tetap banyak juga hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah tersebut.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Serbuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin serta diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Bentala al-Bustoni, secara judul “Aqiqah” terbitan Sirat Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Make your free website at Beep.com
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!